Kotak Hitam Kampus

Mikir-mikir, mikir -mikir terus.. “sebenarnya apa yang diinginkan kampus ini??..”. Entah itu selentingan pemikiran gw malam ini, mengenai apa yang diinginkan kampus ini. jelas memang faktanya kampus ini mengingkan kami menjadi calon2 unggul untuk menjadi pegawai instansi nya.

Namun kenyataannya, proses yang membuat itu nyata tampaknya menjadi lebih runyam dalam urusannya. Pola pikir mahasiswa yang ditekan untuk mampu berfikir dan bekerja underpressur. Skup pemikiran dibatasi gaya berfikirnya menjadi biru hijau orannye sentris. Tidak ada keterbukaan, tranparansi pemikiran maupun masalah dari instansi ini. Terlihat mahasiswa disini dilatih lebih official, atau administratif walau terkadang ada hal yang teoritis juga. namun tidak banyak dilatih memiliki jiwa peneliti, karna konsep administratif di instansi yang menurut gw sangatlah stict birokratif.

Pertama jelas, tuntutan berfikir logis dan matematis dikampus ini membuat sebagian besar mahasiswa disini lebih selfie menurut gw. *istilah yang aneh mungkin gw berikan, tapi kenyataanya seperti itu. Lingkup ambisiusme tinggi. Tuntutan untuk menjadi mahasiswa study oriented begitu terasa. sehingga gw merasa banyak mahasiswa nya lebih sedikit bersosialisasi. karna masing2 sudah memiliki kenyamanan sebagai calon ‘pegawai’ yang memiliki kepastian masa depan. pemikiran seperti ini membuat mahasiswa disini berfikir sempit untuk nyaman di zona ‘aman’ ini.

Pemikiran gw baru-baru ini semakin terbuka, setelah bertukar pikiran dengan beberapa dosen yang asik. Dosen-dosen yang baru saja lulus dari luar sana, ternyata pemikiran nya pun terbuka terhadap perubahan dibanding pemikiran kolot yang terus tetap dijaga di sistem lingkungan ini. Salah satu dosen itu pun merasa masih ada pikiran disini bahwa kita teralu instansi sentris untuk menanggapi dan mempelajari segalanya. semua yang dipelajari memang tujuannya nanti bisa digunakan untuk mengembangkan sistem dan kinerja yang sekarang ada di instansi. namun hal itu seharusnya tidak menjadi batasan pemikiran untuk membuat sesuatu yang ada diluar dari garis-garis instansi. ini membatasi kreativitas dari mahasiswa, membuat inovasi dan pemikiran tersendat untuk hanya berputar-putar di lingkup instansi ini. Hal lain juga menjadi aneh menurut gw ialah ada gap antara instansi dan sekolah cikal bakal instansi tersebut. Seharusnya kami mahasiswa disini, bisa mempelajari apa yang menjadi kendala dan problem yang ada disana secara transparan, sehingga mungkin saja bisa menjadi bahan penelitian bagi kami. namun hal ini tidaklah mudah untuk membuat jembatan untuk mengubungkannya. kenyataan nya sekarang kami tetap terasa sulit untuk memperoleh ilmu aplikatif dari instansi, masih kesulitan untuk mencari tahu apa yang menjadi problem dalam sistem instansi ini, transparansi itu yang menjadi masalah kami untuk dapat mencari tahu inovasi apa yang dapat dikembangkan. Instansi dan sekolah ini, terkesan sekarang menjadi hal terpisah antara induk dan anaknya.

Menurut beberapa pengamat pendidikan diluar sana, sistem, cara, dan kurikulum yang diajarkan disini sudah ketinggalan zaman, karna instansi dan sekolah ini sudah merasa menjadi yang terbaik di negeri ini. pemikiran seperti ini seharusnya dihilangkan, untuk tetap membuat perkembangan dan perubahan2 yang membangun sistem di instansi ini. (*Teralu selfi mungkin, merasa sudah yang terbaik, sehingga lupa bahwa dunia, ilmu pengetahuan, dan teknologi terus berkembang di luar sana.)

Bahkan kini proses-proses ditiap sekolah kedinasan menjadi lebih sulit dalam hal birokrasinya, kita mejadi lebih sulit untuk bergerak dan berinovasi. kegiatan mahasiswa terkendala, karna pendanaan dari kaum atas yang menyendat. Berbeda dengan universitas lain yang UKM nya dapat berdiri dengan mandiri dan sistem birokrasi seminim mungkin. sistem pengangkatan calon pegawainya pun sekarang bahkan terkesan mempersulit, entah itu memang prosedur atau bukan, namun seharusnya tahu jika ini ialah kedinasan yang seharusnya proses TKD itu tidak dilalui lagi.

Urusan di kampus untuk apapun itu di kampus ini, penggunaan ruang, pengecekan hasil Indeks Prestasi semester, dan semua-mua nya dilakukan full birokrasi. Gw pun ngerasai bahwa senat mahasiswa pun masih menjadi tangan kanan kampus, sehingga organisasinya pun terkungkung dalam kotak, tidak sebebas berorganisasi di kampus lain.


mungkin cuma gw dan segelintir mahasiswa keras yang berfikir seperti ini. ini hanyalah unek-unek gw sebagai mahasiswa kedinasan di salah satu instansi. bukan bermaksud tidak tahu diri atas instansi ini, namun tidak lah salah jika kritik yang gw berikan ini bisa menjadi feed back baik untuk memperbaiki instansi dan sekolah ini kedepannya. gw hanya membuka mata, melihat yang terjadi, mendengar apa yang diperbincangkan, dan menuliskannya agar menjadi pemikiran dan inspirasi. kejujuran memang menyakitkan, namun itu lebih baik dari pada berpura-pura tidak tahu dalam kebenaran.

“Something that is considered wrong because few believed and Something wrong is considered right because many who believe. Right is right” AR

Komentarin aja

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s